PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN OSTEOPOROSIS
Disusun untuk memenuhi tugas anatomi semester 1
tahun ajaran 2010/2011
Disusun oleh:
RIF’ATUN NISA
Kelas IA
Prodi DIII Kebidanan
STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA
Jln. Cut Nyak Dien no.16 Kalisapu – Slawi
Kabutapen Tegal
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah melimpahkan rahmatnya kepada kita sehingga pembuatan makalah ini dapat berjalan dengan lancar. Walaupun banyak halangan yang mengganjal pembuatan makalah ini, tetapi atas doa dan rahmat dari Tuhan makalah ini selesai pada waktu yang di tentukan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas anatomi.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr Maun selaku dosen pembimbing mata kuliah anatomi.
2. Orang tua kami yang memberi dukungan spiritual maupun materil.
3. Tidak lupa kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangannya, kami sebagai penulis dengan sangat terbuka menerima saran bila terjadi kekeliruan, karena kami masih dalam proses belajar. Dan kesempurnaan hanya milik Tuhan semata.
Slawi, 10 Oktober 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman judul.............................................................................................. i
Kata pengantar ............................................................................................ii
Daftar isi ....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………..............1
1. Latar belakang …………….…………………………….............................1
2. Rumusan Masalah ...............…………………………………………….....2
3. Tujuan ………………………………………………………………….........2
4. Sistematika Penulisan ……………………………………………………....2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................3
A. Pengertian Osteoporosis.............................................................3
B. Jenis dan Penyebab Osteoporosis..............................................7
C. Pencegaha pada Osteoporosis.................................................11
D. Penatalaksanaan Osteoporosis ................................................13
BAB III PENUTUP ............................................................................15
Kesimpulan .............................................................................................. 15
Saran .........................................................................................................15
Daftar pustaka ...........................................................................................16
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Osteoporosis atau penyakit keropos tulang sering disebut silent disease karena berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Proses hilangnya kalsium dari tulang terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala. Biasanya, penderita menyadari terserang osteoporosis setelah mengalami patah tulang. Resiko terkena osteoporosis semakin terbuka jika kurang memperhatikan kebutuhan nutrisi untuk tulang sehingga semakin lama osteoporosis dapat menggerogoti massa tulang dan ancaman patah tulang pun dapat terjadi. Biasanya, terjadi di paha, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
Banyak masyarakat yang tidak sadar terhadap risiko osteoporosis yang bisa saja mengancam jiwanya. Pola dan gaya hidup seseorang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seseorang didiagnosis osteoporosis. Untuk itu, masyarakat perlu ditunjukkan bukti terhadap risiko osteoporosis yang ada dalam dirinya, sehingga mengubah gaya hidupnya selama ini. banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa dirinya bisa terancam osteoporosis. Karena muncul osteoporosis yang tidak disertai dengan gejala, resiko terkena osteoporosis semakin terbuka jika kurang memperhatikan kebutuhan nutrisi untuk tulang sehingga semakin lama osteoporosis dapat menggerogoti massa tulang dan ancaman patah tulang pun dapat terjadi.
1. Rumusan Masalah
a. Apakah osteoporosis itu?
b. Mengapa Osteoporosis itu bisa terjadi?
c. Dengan cara apa pencegahan nya?
d. Bagaimana penyembuhannya?
2. Tujuan
a. Mengetahui tentang osteoporosis
b. Mengetahi penyebab osteoporosis
c. Dapat mengetahui cara pencegahan pada osteporosis
d. Mengetahui tentang penYembuhan penyakit osteporosis
3. Sistematika penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang
Rumusan masalah
Tujuan
Sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Osteoporosis
Penyebab Osteoporosis
Pencegahan Osteoporosis
Penatalaksanaan Osteoporosis
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Saran
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang.
2. Jenis dan Penyebab Osteoporosis
a. Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
b. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.
c. Osteoporosis sekunder dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Penyakit osteoporosis bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan osteoporosis.
d. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
Faktor Risiko Osteoporosis
- Wanita
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.
- Usia
Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.
- Ras/Suku
Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.
- Keturunan Penderita osteoporosis
Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.
- Gaya Hidup Kurang Baik
· Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.
· Minuman berkafein dan beralkohol.
Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang.
Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).
· Malas Olahraga
Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.
· Merokok
Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, nikotin jelas menyebabkan osteoporosis baik secara langsung tidak langsung.
Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti.
· Kurang Kalsium
Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.
- Mengkonsumsi Obat
Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.
- Kurus dan Mungil
Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna.
3. Pencegahan Osteoporosis
Pencegaha pada Osteoporosis dpat di lakukan dengan cara- cara:
> Konsumsi kalsium yang cukup Untuk mencukupi kebutuhan kalsium, perlu diperhatikan produk pangan yang disantap. Salah satu sumber kalsium yang cukup baik adalah susu. Dua gelas susu sehari, sudah dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan kalsium. Dari dua gelas susu (500 ml) akan diperoleh 1.250 mg kalsium. Perolehan kalsium tersebut sudah melebihi kebutuhan kalsium orang dewasa yaitu 800-1.000 mg/hari.
> Berhati-hatilah menggunakan obat Beberapa jenis obat ternyata dapat mengganggu kinerja tulang. Salah satu contohnya adalah obat kortikosteroid yang dapat menekan kerja hormon pengatur pembentukan tulang. Contoh lain adalah antasida, obat pencahar, cholestiramine, obat diuretik, anti-gout dan beberapa jenis obat anti-rematik. Obat-obatan tersebut memiliki efek mengganggu penyerapan kalsium.
> Batasi penggunaan garam Garam dapur (NaCl) terdiri dari unsur natrium (Na) dan klorida (Cl). Konsumsi natrium (sodium) yang berlebih, baik yang berasal dari garam dapur maupun monosodium glutamat (MSG) dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Selain memiliki efek hipertensi, natrium juga berpotensi untuk menghilangkan kalsium dari tubuh. Natrium akan mengeluarkan kalsium dari tubuh melalui urin. Cara menghindari kehilangan kalsium akibat natrium adalah dengan membatasi konsumsinya.
> Cukupi konsumsi vitamin D Vitamin D diketahui mampu memelihara kesehatan tulang dengan cara meningkatkan penyerapan kalsium dari sistem pencernaan, serta mengurangi pembuangannya dari ginjal. Kebutuhan vitamin D normal per hari adalah 400 IU. Dalam bentuk non-aktif, vitamin D banyak terdapat di bawah kulit. Vitamin D akan menjadi aktif dan berfungsi apabila terpapar sinar matahari pagi yang banyak mengandung ultraviolet. Terpapar sinar matahari sekitar 20 menit per hari, minimal 3 kali seminggu sudah cukup untuk membantu produksi vitamin D.
> Aktif berolah raga Penurunan aktivitas fisik pada usia lanjut dapat menurunkan massa tulang. Oleh karena itu olah raga aktif secara rutin merupakan bentuk antisipasi terhadap penurunan massa tulang. Adapun bentuk olah raga yang sesuai bagi seseorang yang sudah lanjut usia adalah yang minim benturan seperti aerobik low impact, jalan kaki, bersepeda atau berenang. Aspek yang harus diperhatikan adalah intensitas, waktu, dan frekuensi olahraga. Kecukupan intensitas diukur dengan menghitung denyut nadi. Denyut nadi normal berkisar antara 70-80 denyut per menit. Waktu berolah raga disarankan 20-40 menit per latihan, sedangkan untuk frekuensi idealnya adalah 3-4 hari per minggu.
> Bantu dengan obat Dalam dunia kedokteran mulai banyak dikembangkan berbagai obat pencegah osteoporosis. Jenis obat tersebut di antaranya adalah estrogen, kalsitonin, biophosphonat, dan testosteron. Estrogen merupakan hormon yang menurun jumlahnya dalam tubuh apabila wanita mengalami menopause. Hal ini ditengarai sebagai penyebab osteoporosis utama pada wanita. Obat berisi hormon estrogen yang diberikan pada wanita pasca menopause diharapkan dapat mencegah osteoporosis.
3. Penata laksanaan Osteoporosis
American College of Physicians membuat rekomendasi baru tentang penatalaksanaan Osteoporosis sebagai berikut :
=> Dokter sebaiknya menawarkan obat kepada seseorang yang telah diketahui mengalami osteoporosis dan seseorang yang telah mengalami apa yang disebut fraktur kerapuhan (ketika tulang patah tanpa ada trauma yang bermakna).
=> Dokter sebaiknya mempertimbangkan penanganan preventif pada pasien yang memiliki resiko mendapatkan osteoporosis.
=> Dokter sebaiknya berperan dalam penilaian resiko dan manfaat individual ketika memilih diantara pilihan penanganan obat untuk osteoporosis
=> Penelitian tambahan sebaiknya dilakukan untuk menginvestigasi penanganan osteoporosis pada pria dan wanita.
Peneliti secara kolektif mengulas data dari beberapa penelitian obat yang berbeda dan pada akhirnya membentuk panduan yang berdasarkan bukti (evidence-based)
Hal-hal penting yang ditemukan dari pengulasan data penelitian tersebut adalah :
# Bisphosphonates digunakan untuk prevensi atau penanganan osteoporosis. Obat ini mengurangi fraktur, namun tidak terdapat informasi yang baik mengenai seberapa lama seseorang sebaiknya mengkonsumsi obat ini. Efek samping obat ini termasuk refluks asam, dan masalah pada oesofagus, efek samping yang jarang namun serius adalah kerusakan tulang rahang
# Estrogen mengurangi insiden fraktur namun meningkatkan resiko beberapa jenis kanker, stroke, dan endapan darah.
# Obat non-estrogen yang berfokus terhadap reseptor estrogen (juga diketahui sebagai SERM, atau selective estrogen receptor modulator) mencegah fraktur spinal namun tidak mengurangi kecendrungan fraktur pinggul. Efek samping termasuk endapan darah (blood cloth).
# Kalsitonin digunakan untuk penanganan. Obat ini mengurangi insiden fraktur spinal,
# Teriparatide digunakan untuk penanganan osteoporosis. Obat ini mencegah fraktur spinal,
# Vitamin D dan suplemen kalsium, jika dikonsumsi bersamaan, memiliki efek yang cukup terhadap fraktur.
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
ð Osteoporosis bukan hanya di derita oleh kaum lansia saja, akan tetapi dapat juga di derita oleh kalangan muda.
ð Osteoporosis dapat juga di sebabkan karena kurangnya rutinitas berolahrga.
ð Pola konsumsi juga dapat mempengaruhi penyakit jenis ini.
ð Osteoporosis bisa juga di cegah secara dini, dengan menggunakan tes kepadatan massa tulang.
b. Saran
ð Pola konsumsi juga dapat mempengaruhi osteoporosis, sehingga sebelum terjadi lebih baik di antisipasi.
ð Untuk pengidap Osteoporosis di anjurkan untuk mengkonsumsi Buah Merah.
ð Sering berolahraga agar dapat mencegah secara dini pengeroposan tulang.
DAFTAR PUSTAKA
http://cetrione.blogspot.com/2008/09/penatalaksanaan-osteoporosis.html
http://.unpad.ac.id